Wednesday, October 21, 2026

Hasil briefing hari Rabu 21102026

 Hasil Rapat
 
Hari/Tanggal: Rabu, 21 Oktober 2026  Pukul 14.00
Tempat: SMAN 1 Rancaekek

  I. Pelaksanaan TKA (Tes Kompetensi Akademik)
 
 Semua siswa wajib mengikuti TKA. Total peserta ±85, dibagi di 4 ruangan (maksimal 20 peserta/ruang).

Sistem pelaksanaan: semi-online. Sedang disiapkan 3 komputer baru, server, dan jaringan.

 3 kelas terdampak pemindahan ruang belajar selama persiapan & pelaksanaan TKA:
1. Dipindah ke ruangan baru yang belum resmi diresmikan
2.Perkiraan waktu: 19 Oktober – 6 November 2026 (±1 bulan).
3.Mohon dijaga kebersihan ruangan baru 4. belum lengkap perabotnya, belajar bisa lesehan sementara.
5.Setelah 6 November, ruangan akan dibersihkan dan dikembalikan.
6.Mohon perhatian wali kelas dan guru yang mengajar di ruangan tersebut untuk menjaga kebersihan dan kondisi ruangan
 
 II. Pelaksanaan TKA / Ujian Sekolah
 
Dilaksanakan dalam 2 gelombang
Gelombang 1: 26–29 Oktober 2026 (Senin–Kamis)
Gelombang 2. 2–5 November 2026
Tanggal 30 Oktober (Jumat) belum ditetapkan libur menunggu surat edaran. PJJ boleh dilaksanakan jika diperlukan, dengan absensi tetap berjalan seperti biasa.

Kepala sekolah akan mengatur jadwal kehadiran guru selama periode ini. Jangan menjadikan alasan PJJ untuk tidak masuk sekolah tanpa izin resmi.
 
 III. Administrasi Kepegawaian & SKP
 
Tutup SKP Triwulan III dan laporan bulanan Oktober segera diselesaikan.

Kompetensi ASN di Sekolah:
Guru Pedagogik, Profesional, Sosial, Kepribadian.
Tenaga Kependidikan: Pengolahan Data, Administrasi Perkantoran.
Jam Kerja Tenaga kependidikan 5 hari, 06.30–15.00
Guru Wajib hadir 5 hari. Jam mengajar minimal 24 jam  maksimal 40 jam / minggu.  Di luar jam mengajar, tetap di sekolah untuk mengerjakan administrasi dan tugas lainnya.

Kedisiplinan & kehadiran tepat waktu sangat ditekankan. Dinas luar wajib ada surat tugas. 

Mulai Januari 2027, kehadiran akan lebih ditegakkan dan ditindaklanjuti bagi yang tidak disiplin.

Guru tidak boleh hanya datang saat ada jam mengajar. Di luar jam mengajar, tetap di sekolah untuk menyelesaikan tugas administrasi sekolah.
 
I.V Verifikasi Data & Inventaris Sekolah
 
Data Siswa & Dapodik
 
Sedang ada pemeriksaan dari Inspektorat Daerah & Kejati Jawa Barat terkait jumlah siswa tahun 2025.

Data utama diambil dari Dapodik per Agustus 2024. Mohon wali kelas segera melengkapi daftar siswa yang diminta.

Jangan melaporkan data yang tidak sesuai fakta. Laporkan jumlah siswa apa adanya sesuai kondisi riil di lapangan.
 
Inventaris Buku Pelajaran
 
Buku yang belum digunakan diminta dibuatkan surat pernyataan bahwa buku tersebut memang ada dan akan digunakan sesuai kebutuhan. 
Foto kondisi buku dapat dilampirkan sebagai bukti fisik.

Buku tidak perlu dikembalikan ke negara, cukup dinyatakan secara tertulis bahwa buku tersebut ada dan akan dimanfaatkan. Mohon segera ditandatangani dan dikumpulkan.
 
Inventaris Barang Ruangan
 
Setiap ruangan memiliki daftar inventaris. Penanggung jawab ketua ruangan / wali kelas. 
Laporkan segera jika ada barang rusak atau hilang secara berkala.
Barang inventaris adalah milik negara, mohon dijaga dengan baik.
 
V. Daftar Hadir
 
Mulai November 2026, daftar hadir digital ,digunakan bersama daftar hadir manual. Mohon kedisiplinan kehadiran dan ketepatan waktu.

VI. Tambahan dari Bu Dinar
 
Data wali kelas per 31 Agustus 2024 sedang diminta untuk keperluan verifikasi. Mohon segera dilengkapi yang belum terkirim.

Beberapa dokumen lama sebagian rusak atau hilang, mohon bantuan untuk melengkapi dari catatan masing-masing wali kelas.

Daftar nilai dari guru mata pelajaran juga sedang dikumpulkan mohon kerjasamanya untuk yang belum mengirim.

Target semua dokumen terkumpul paling lambat Jumat, 23 Oktober 2026.

Terima kasih atas waktu, kehadiran, dan kerjasama Bapak serta Ibu sekalian. Semoga segala urusan kita di sekolah ini selalu dipermudah dan membawa kebaikan bagi siswa-siswi kita. 

Semoga SMAN 1 Rancaekek terus semakin maju dan berkembang.
 

 
 
 

Wednesday, October 14, 2026

TANTANGAN 31 HARI MENULIS — BUKU NIA


 
✍️ TANTANGAN 31 HARI MENULIS — BUKU NIA
 
 
 
Hari 1 — 1 Oktober
 
Mengapa Aku Ingin Menulis? — Menyimpan Jejak Hidup agar Tak Terlupa
 
Aku menulis bukan untuk menjadi terkenal, bukan pula untuk dipuji siapa pun. Aku menulis karena aku ingin menyimpan setiap langkah yang telah kuambil. Ada hari-hari yang begitu indah, aku tak ingin melupakannya. Ada hari-hari yang berat, aku ingin mengingat bagaimana aku mampu melewatinya.
 
Aku ingin menulis agar kelak, saat rambutku memutih dan langkahku melambat, aku bisa membaca kembali dan berkata: “Lihat, Nia. Kamu sudah sejauh ini. Kamu sudah berjuang sebaik mungkin.”
 
Aku menulis untuk diriku, untuk anak-anakku, dan untuk siapa pun yang hatinya pernah merasa sama — bahwa hidup itu perjalanan yang indah, meski tak selalu mudah. 
 
 
 
Hari 2 — 2 Oktober
 
Pengalaman yang Tak Terlupakan — Saat Sakit Mengajarkanku Makna Bersyukur
 
Ada masa di mana aku terbaring lemah di rumah sakit. Tubuhku terasa berat, napas pun tak selancar biasanya. Hari-hari di ruang perawatan mengajarkanku sesuatu yang tak pernah kupelajari di mana pun: betapa berharganya sehat, betapa nikmatnya bangun pagi dengan tubuh yang kuat.
 
Saat itu, yang terpenting bukanlah apa yang kumiliki, melainkan siapa yang menanti pulang. Doa rekan-rekan guru, kunjungan keluarga, sapaan hangat anak-anak — semuanya menguatkanku. Aku belajar: kebahagiaan bukan di tempat yang jauh, melainkan di orang-orang yang menyayangimu saat kamu paling lemah. 🤲
 
 
 
Hari 3 — 3 Oktober
 
Guru yang Menginspirasi Saya — Dari Sosok yang Menggandeng, Menjadi Sosok yang Menggandengkan
 
Ada sosok yang selalu kuingat — guruku dulu yang tak hanya mengajar pelajaran, tapi juga mengajarkan kebaikan. Beliau tak pernah membedakan murid, selalu sabar, dan selalu tersenyum meski lelah. Dulu aku hanya menerima. Kini aku paham: beliau menanamkan kepercayaan padaku tanpa kuketahui.
 
Kini aku berdiri di tempat yang sama. Aku ingin menjadi seperti beliau — bukan sempurna, tapi tulus. Bukan sekadar memberi nilai, tapi memberi harapan. Karena aku tahu, satu kata baik yang terucap hari ini, bisa tumbuh menjadi kekuatan yang tak terbayangkan kelak. 💛
 
 
 
Hari 4 — 4 Oktober
 
Murid yang Memberikan Pelajaran — Bukan Hanya Aku Mengajar, Mereka Juga Mengajarku
 
Banyak orang mengira guru hanya memberi, murid hanya menerima. Padahal tidak. Setiap hari di kelas, anak-anak justru yang mengajarkanku banyak hal.
 
Ada murid yang diam-diam berusaha keras meski hasilnya belum terlihat. Ada yang tersenyum meski mungkin hatinya sedang sedih. Ada yang bertanya dengan tulus, membuatku juga berpikir lebih dalam. Mereka mengajarkanku untuk lebih sabar, lebih peka, lebih lembut. Aku mengajar mereka ilmu, mereka mengajarkanku makna ketulusan. 💫
 
 
 
Hari 5 — 5 Oktober
 
Kegagalan yang Mengajarkan — Saat Rencana Tak Sesuai, Ternyata Jalan-Nya Lebih Indah
 
Dulu aku berencana begini, ternyata jalannya ke sana. Aku pernah merasa kecewa, merasa gagal, bertanya mengapa tidak seperti yang kubayangkan. Namun seiring berjalannya waktu, aku paham: rencana Tuhan jauh lebih luas dari pikiranku.
 
Apa yang terlihat seperti kegagalan, ternyata hanya jalan lain yang lebih baik. Apa yang tak terwujud, diselamatkan dari sesuatu yang belum tentu baik. Kini aku tak lagi bersedih saat rencana berubah. Aku belajar berserah — bahwa Dia tahu apa yang terbaik untukku. 🌿
 
 
 
Hari 6 — 6 Oktober
 
Buku yang Mengubah Cara Pandang — Memeluk Masa Lalu, Menyambut Masa Kini dengan Syukur
 
Bukan satu buku saja, melainkan kehidupan itu sendiri yang menjadi bacaan paling bermakna. Halaman-halamannya berisi tawa dan air mata, pertemuan dan perpisahan, harapan dan kecewa.
 
Akhirnya aku paham: masa lalu bukan untuk disesali, melainkan dipeluk sebagai bagian dari siapa aku sekarang. Masa depan bukan untuk dicemaskan, melainkan diusahakan dengan tulus. Dan masa kini — inilah anugerah yang paling nyata. Hidup bukan tentang mencari hal baru, melainkan melihat hal yang sudah ada dengan mata yang bersyukur. ✨
 
 
 
Hari 7 — 7 Oktober
 
Mengapa Guru Perlu Menulis? — Agar Suara Hati Pendidik Tetap Terdengar dan Tersimpan
 
Kita sering sibuk menulis nilai, laporan, rencana pelajaran — namun jarang menulis apa yang ada di hati. Padahal di balik setiap lembar kertas itu, ada perasaan, ada harapan, ada doa.
 
Guru perlu menulis agar perasaan itu tidak hilang terbawa waktu. Agar kelak, saat lelah datang, kita bisa membaca kembali dan ingat: untuk apa dulu kita memulai. Agar orang lain tahu — mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Dan agar jejak kasih ini tetap tertinggal, meski langkah kita sudah tak lagi di sana. 📝
 
 
 
Hari 8 — 8 Oktober
 
Teknologi dalam Kehidupan Saya — Mengajar Informatika, Menjaga Hati Tetap Manusiawi
 
Aku mengajar Informatika — dunia yang bergerak cepat, penuh perubahan, selalu baru. Namun di tengah layar dan kode, aku selalu mengingatkan diri sendiri: teknologi memudahkan hidup, tapi tidak menggantikan hati.
 
Aku mengajarkan anak-anak cara menggunakan alat canggih, tapi lebih penting lagi — aku mengajarkan mereka tetap manusia yang beradab. Bahwa di balik setiap perangkat, ada sesama yang harus dihormati. Bahwa kemajuan tanpa kebaikan hanyalah kesia-siaan. Majulah pikirannya, tapi lembutkan hatinya. 💻🤍
 
 
 
Hari 9 — 9 Oktober
 
Pengalaman Mengajar yang Berkesan — Saat Mata Menatap, Hati Terhubung, Ilmu Mengalir
 
Ada momen yang tak akan kulupakan. Saat suasana hening di kelas, bukan karena takut, melainkan karena semua sedang menyimak. Saat seorang murid yang biasanya diam, tiba-tiba mengangkat tangan dan bertanya. Saat mata mereka menyala memahami sesuatu yang baru.
 
Bukan jam pelajaran yang teringat, bukan materi yang disampaikan — melainkan momen saat hati saling menyentuh. Saat mereka tahu bahwa aku peduli, dan aku tahu mereka berusaha. Itulah pengalaman paling berharga — bukan mengajar, tapi menyentuh. 👩‍🏫✨
 
 
 
Hari 10 — 10 Oktober
 
Sebuah Perjalanan — Dari Gadis Kecil yang Ingin Cepat Besar, Menjadi Ibu yang Menemukan Makna
 
Dulu aku gadis kecil yang tak sabar ingin tumbuh. Ingin bebas, ingin mandiri, ingin tahu dunia. Kini aku berdiri di tempat itu — dewasa, bertanggung jawab, kadang lelah, tapi utuh.
 
Perjalanan ini mengajarkanku: kedewasaan bukanlah tempat yang sampai lalu berhenti. Melainkan terus belajar, terus memaafkan diri, terus mencintai kehidupan. Aku tidak lagi ingin cepat ke mana pun. Aku ingin menikmati setiap langkah pelan, tapi pasti. 
 
Hari 11 — 11 Oktober
 
Orang yang Saya Kagumi — Orang Tuaku, Sumber Kasih yang Tak Pernah Pudar
 
Orang yang paling kukagumi bukan tokoh jauh, melainkan Ayah dan Ibuku sendiri. Mereka tidak kaya raya, tidak terkenal, tapi mereka memberi segalanya — waktu, tenaga, kasih sayang — tanpa pernah menghitung.
 
Kini saat aku berdiri di tempat mereka dulu berdiri, aku baru paham betapa beratnya menjaga keluarga tetap hangat. Mereka melepaskan banyak hal demi aku. Dan kasih sayang itu tak pernah berubah — tetap tulus, tetap ada, tetap menanti pulang. Semoga aku bisa menjadi separuh baiknya saja, sudah cukup. 🤲
 
 
 
Hari 12 — 12 Oktober
 
Pelajaran dari Kehidupan — Bahwa Kebahagiaan Bukan Dikejar di Jauh, Melainkan Dihargai di Dekat
 
Dulu aku berpikir bahagia ada di tempat yang jauh — di pencapaian, di pujian, di hal-hal yang tampak gemerlap. Kini aku tahu: bahagia ada di sini. Di secangkir teh hangat di meja makan. Di sapaan suami saat pulang. Di tawa anak-anak bermain. Di doa orang tua yang tak putus.
 
Kehidupan mengajarkanku: kita sering mencari kebahagiaan ke mana-mana, padahal ia sudah ada di samping kita — tinggal kita menyadarinya dengan hati yang bersyukur. 🌿
 
 
 
Hari 13 — 13 Oktober
 
Tantangan Menjadi Guru — Menjadi Kuat untuk Orang Lain, Sambil Belajar Menjaga Diri Sendiri
 
Menjadi guru berarti selalu siap menjadi tempat bersandar. Saat murid sedih, saat orang tua cemas, saat rekan kerja butuh bantuan — aku harus ada, harus kuat, harus mengerti. Kadang lupa, aku juga manusia yang bisa lelah.
 
Tantangannya bukan mengajar materi, tapi menjaga hati tetap lembut meski sering habis. Belajar memberi tanpa menghabiskan diri. Belajar menguatkan sambil tetap mengisi kembali tenagaku sendiri. Agar aku bisa terus ada untuk mereka, aku juga harus merawat diriku. 💛
 
 
 
Hari 14 — 14 Oktober
 
Ketika Saya Hampir Menyerah — Saat Tubuh Lemah, Doa Orang Lain Menjadi Kekuatanku
 
Ada hari di mana rasanya ingin berhenti. Sakit yang tak kunjung reda, kekhawatiran yang tak ada habisnya, tubuh yang tak bisa diajak bekerja seperti dulu. Aku bertanya: “Sanggupkah aku melangkah lagi?”
 
Namun di saat itulah aku merasa dikelilingi kasih — doa dari murid, perhatian rekan guru, pelukan keluarga. Mereka menguatkanku tanpa banyak kata. Aku belajar: aku tidak berjalan sendirian. Dan doa orang-orang yang menyayangiku adalah kekuatan yang tak terlihat, namun nyata menopangku berdiri kembali. 🤍
 
 
 
Hari 15 — 15 Oktober
 
Setengah Perjalanan: Apa yang Saya Rasakan? — Sudah Jauh Melangkah, Masih Banyak Bersyukur
 
Melihat ke belakang, aku tak menyangka sudah sejauh ini. Banyak yang berubah — wajah, peran, cara memandang dunia. Namun yang menyenangkan: aku tidak lagi terburu-buru. Aku tidak lagi membandingkan diriku dengan orang lain.
 
Setengah perjalanan ini mengajarkanku untuk tenang. Bahwa aku punya waktuku sendiri, jalanku sendiri. Tidak perlu cepat, yang penting tulus. Tidak perlu sempurna, yang penting berusaha. Dan di sisa perjalanan ini, aku ingin lebih banyak bersyukur daripada mengeluh, lebih banyak memberi daripada menerima. ✨
 
 
 
Hari 16 — 16 Oktober
 
Sekolah Impian Saya — Tempat di Mana Anak-anak Belajar Bukan Hanya Pintar, Tapi Juga Berhati
 
Sekolah impianku bukan gedung tertinggi atau halaman terluas. Bagiku, sekolah impian adalah tempat di mana setiap anak merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Di mana mereka belajar berhitung sekaligus berbelas kasih. Menulis surat sekaligus menata hati. Meraih mimpi sekaligus menjaga sesama.
 
Aku ingin anak-anak pergi dari sini bukan hanya membawa nilai di atas kertas, tapi membawa kebaikan di dalam diri. Agar ke mana pun mereka pergi, mereka membawa cahaya yang menyejukkan dunia. 🏫✨
 
 
 
Hari 17 — 17 Oktober
 
Teknologi dan Pendidikan — Menjembatani Dunia Nyata dengan Ilmu yang Bermanfaat
 
Teknologi membuka pintu yang dulu tertutup. Anak-anak bisa belajar dari mana saja, mengenal siapa saja. Namun aku selalu mengingatkan: teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah untuk apa alat itu digunakan.
 
Aku mengajarkan mereka keterampilan zaman sekarang, tapi yang lebih dalam — kejujuran, kesopanan, tanggung jawab di dunia maya maupun nyata. Agar kemajuan membawa kebaikan, bukan kerusakan. Agar ilmu yang didapat menjadi jembatan, bukan tembok. 💻🤝
 
 
 
Hari 18 — 18 Oktober
 
AI dan Masa Depan Pendidikan — Bersama Kemajuan, Tetap Menjaga Kemanusiaan
 
Dunia berubah begitu cepat. Hal-hal yang dulu tak terbayangkan kini ada di depan mata. Di tengah semua kemajuan itu, aku percaya satu hal yang tak akan tergantikan: kehangatan hubungan antarmanusia.
 
Meski mesin bisa menjawab pertanyaan, ia tak bisa memeluk yang sedang sedih. Meski bisa menyampaikan materi, tak bisa merasakan apa yang dirasakan anak didik. Tugas kita bukan takut pada perubahan, melainkan berjalan bersamanya sambil tetap memegang erat apa yang membuat kita manusia — empati, kasih sayang, keinginan tulus untuk saling menguatkan. 🌍🤍
 
 
 
Hari 19 — 19 Oktober
 
Pengalaman Berbagi — Ilmu yang Diberikan Tak Akan Berkurang, Justru Semakin Bertambah
 
Dulu aku berpikir ilmu harus dikumpulkan dan dijaga. Kini aku tahu: justru saat dibagikan, ia tumbuh. Saat aku menjelaskan sesuatu kepada murid, aku juga memahaminya lebih dalam. Saat aku berbagi cerita kepada rekan, hatiku pun terasa lebih ringan.
 
Berbagi bukan kehilangan, melainkan memperbanyak kebaikan. Dan itulah makna mengajar — bukan menumpahkan apa yang sudah kita ketahui, tapi menumbuhkan apa yang baik di dalam diri mereka, sehingga kebaikan itu terus mengalir ke mana-mana. 🌱
 
 
 
Hari 20 — 20 Oktober
 
Menjadi Ibu dan Guru — Dua Peran, Satu Hati: Memberi, Mengasihi, Membimbing
 
Ada dua peran yang mengisi hari-hariku: menjadi ibu dan menjadi guru. Keduanya berbeda, tapi hatinya sama — ingin melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik.
 
Di sekolah aku membimbing puluhan anak. Di rumah aku merawat anak-anakku sendiri. Kadang lelah, kadang terbagi, tapi tak pernah terasa berat. Karena pada akhirnya, tugasku sama: menanam kasih sayang, menumbuhkan harapan, melepaskan mereka terbang dengan doa agar selamat dan bahagia ke mana pun mereka pergi. 💛
 
 
 
Hari 21 — 21 Oktober
 
Hal yang Paling Saya Syukuri — Keluarga, Tempat Pulang yang Tak Pernah Berubah
 
Di dunia yang terus berubah, ada satu hal yang tetap sama — keluargaku. Orang-orang yang menerima aku apa adanya, yang menyambutku pulang dengan senyum, yang mendoakanku tanpa henti.
 
Kini aku paham: harta paling berharga bukan di rekening, bukan di perhiasan, melainkan di meja makan yang penuh tawa, di pelukan yang selalu terbuka, di doa yang terbang tanpa diketahui. Terima kasih Allah, untuk mereka. Cukup sudah. 🤲❤️
 
 
 
Hari 22 — 22 Oktober
 
Masa Kecil yang Kini Kurindukan — Sederhana, Hangat, Penuh Kasih Sayang
 
Seringkali saat hari mulai tenang, aku teringat masa kecilku. Rumah yang sederhana, tapi hangat. Permainan yang tak mahal, tapi penuh tawa. Pelukan yang menyembuhkan segalanya. Dulu aku ingin cepat pergi. Kini aku ingin kembali sebentar, sekadar berkata: “Terima kasih, Ayah Ibu, untuk semua kasih yang kau tanamkan padaku.”
 
Rindu ini bukan untuk kembali, tapi untuk menyadari — betapa beruntungnya aku dibesarkan dengan kasih sayang. Dan kini, giliranku menanamkan hal yang sama untuk anak-anakku. 🌸
 
 
 
Hari 23 — 23 Oktober
 
Doa yang Menjadi Kekuatan — Saat Kata Tak Cukup, Doa Mengantar Segala Sesuatu
 
Ada saat di mana aku tak mampu berbuat banyak. Saat sakit, saat cemas, saat tak tahu lagi harus berbuat apa. Di situlah doa menjadi tempat pulangku. Aku berserah kepada-Nya, menyerahkan apa yang tak sanggup kuangkat sendiri.
 
Doa orang lain juga menjadi kekuatanku — doa murid, rekan, keluarga. Ternyata doa itu nyata — ia merangkul, menenangkan, menopang saat tak ada yang bisa dipegang. Kini aku lebih tenang: apa yang tak bisa kuubah, kuserahkan kepada Yang Maha Mengatur. 🤲✨
 
 
 
Hari 24 — 24 Oktober
 
Kesalahan yang Mengajarkan — Bukan Menyesal, Melainkan Melangkah Lebih Bijak
 
Aku bukan orang yang tak pernah salah. Ada kata yang terucap kurang tepat, ada keputusan yang kurang bijak, ada momen yang seharusnya lebih sabar. Dulu aku menyesalinya lama. Kini aku belajar memaafkan diri sendiri.
 
Kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda kita sedang berproses. Yang penting tidak berhenti di sana. Belajar darinya, memperbaiki diri, dan melangkah lebih baik ke depannya. Hidup bukan tentang tidak pernah jatuh, tapi selalu bangkit dengan lebih bijak. 🌿
 
 
 
Hari 25 — 25 Oktober
 
Hal yang Ingin Saya Tingkatkan — Menjadi Lebih Baik Bukan Bukan untuk Sempurna, Tapi untuk Tulus
 
Aku tahu aku belum sempurna. Masih ada sabar yang teruji, masih ada lelah yang datang, masih ada hari yang ingin aku ulangi. Namun aku ingin terus berusaha — bukan agar dipuji, tapi agar aku bisa berkata jujur pada diriku: aku sudah berusaha sebaik mungkin.
 
Lebih tulus dalam memberi, lebih sabar dalam membimbing, lebih lembut pada diri sendiri dan orang lain. Perbaikan diri tak ada habisnya, dan itu indah — karena itu artinya kita masih hidup, masih berproses, masih tumbuh. 🌻
 
 
 
Hari 26 — 26 Oktober
 
Momen Paling Berharga — Saat Melihat Anak-anak Meraih Mimpi Mereka Sendiri
 
Satu hal yang membuat hatiku penuh: melihat anak-anak tumbuh dan melangkah ke arah mimpi mereka. Saat Rizki meraih gelarnya, saat Renaldi menemukan jalannya, saat murid-muridku bercerita tentang cita-cita mereka yang mulai terwujud.
 
Itulah kebahagiaanku — bukan pujian untukku, tapi kebahagiaan mereka. Tugasku bukan memegang mereka selamanya, tapi memastikan mereka tahu ke mana pun pergi, selalu ada doa yang menyertai. Dan melihat mereka bahagia, itulah hadiah terindah yang tak ternilai harganya. 💫
 
 
 
Hari 27 — 27 Oktober
 
Apa yang Ditinggalkan untuk Dunia? — Bukan Harta, Melainkan Jejak Kasih dan Ilmu yang Bermanfaat
 
Suatu hari nanti aku tak akan lagi di sini. Namun aku ingin meninggalkan sesuatu yang tak pudar — bukan benda yang bisa rusak, melainkan kebaikan yang terus mengalir.
 
Kata-kata baik yang pernah terucap, ilmu yang bermanfaat, kasih sayang yang tulus. Semoga ada yang tersisa di hati mereka — semangat untuk berbuat baik, keberanian untuk bermimpi, kelembutan untuk mencintai. Itulah warisan sejati — yang tak bisa diukur angka, tapi abadi di dalam hati. 🕊️
 
 
 
Hari 28 — 28 Oktober
 
Ketika Waktu Terasa Cepat — Menua Bukan Hal yang Ditakuti, Melainkan Dihargai
 
Rambut mulai memutih, langkah tak secepat dulu, wajah mulai menampakkan jejak perjalanan. Dulu aku takut akan hal ini. Kini aku justru bersyukur — karena itu artinya aku diberi waktu untuk tumbuh, untuk belajar, untuk mencintai kehidupan.
 
Menua bukan kerugian, melainkan anugerah. Banyak yang tak sampai seumur ini. Setiap tahun yang ditambahkan adalah kesempatan untuk berbuat lebih baik, lebih banyak, lebih tulus. Terima kasih Tuhan, untuk setiap detik yang Kau beri. 🕰️🤍
 
 
 
Hari 29 — 29 Oktober
 
Harapan untuk Masa Depan — Semoga Anak-anak Tumbuh Bahagia, Berbakti, dan Bermakna
 
Untuk anak-anakku, murid-muridku, dan semua yang kucintai: harapanku sederhana. Bukan agar mereka kaya atau terkenal, melainkan agar mereka bahagia — bahagia dengan cara mereka sendiri. Agar mereka tumbuh menjadi orang yang bermanfaat, yang menyejukkan hati siapa pun di dekatnya.
 
Agar ke mana pun mereka melangkah, mereka membawa kebaikan. Dan jika suatu hari mereka merasa lelah, ingatlah — selalu ada rumah untuk pulang, selalu ada doa yang tak putus, selalu ada kasih yang menanti. Semoga langkah mereka selalu diberkati. 🌟
 
 
 
Hari 30 — 30 Oktober
 
Pesan untuk Diri Sendiri — Kamu Sudah Berusaha, Itu Sudah Lebih dari Cukup
 
Nia, dengarkanlah. Kamu sudah melewati banyak hal — sedih dan gembira, sehat dan sakit, ragu dan berani. Kamu tidak selalu benar, tapi kamu selalu tulus. Kamu tidak sempurna, tapi kamu berusaha sebaik mungkin.
 
Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Izinkan dirimu beristirahat. Izinkan dirimu bahagia. Kamu sudah cukup. Kamu sudah berharga. Dan perjalananmu belum selesai — masih ada hal indah yang menanti, masih ada kebaikan yang akan datang. Tetaplah melangkah, dengan tenang dan penuh syukur. 💛🤗
 
 
 
Hari 31 — 31 Oktober
 
Menulis sebagai Perjalanan Jiwa — Menyimpan, Mengingat, dan Bersyukur atas Setiap Langkah
 
Tiga puluh satu hari ini bukan sekadar menulis. Ini adalah melihat kembali perjalanan hidup — siapa aku dulu, siapa aku sekarang, dan siapa yang ingin kujadikan. Setiap halaman adalah doa, setiap kalimat adalah pengakuan tulus kepada diri sendiri.
 
Buku ini bukan kisah yang luar biasa. Ini kisah seorang wanita yang ingin tumbuh, memberi, dan dicintai. Yang belajar bahwa kebahagiaan bukan dicari jauh, melainkan dihargai di setiap hari yang dijalani. Dan di akhir perjalanan ini, aku hanya ingin berkata: terima kasih, Nia. Terima kasih, Tuhan. Untuk semuanya. 
 
 
 

 

Thursday, August 13, 2026

moderator informatika


 

 
 
 
 
  MODERATOR
 
 1. PEMBUKAAN — 06.30–06.35
 
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
 
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Yang terhormat, Bapak Kepala SMAN 1 Rancaekek, Bapak/Ibu Guru, serta rekan-rekan sejawat yang saya cintai. Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul pagi ini dalam kegiatan Kelompok Belajar Informatika dengan tema: “Membuat Soal PTS Online Menggunakan Google Forms”.
 
Hadirin sekalian, tujuan kegiatan kita hari ini adalah untuk berbagi praktik baik, meningkatkan kompetensi digital, dan mempermudah proses evaluasi pembelajaran yang efektif dan efisien. Berikut susunan acara kita pagi ini: pembukaan, sambutan kepala sekolah, pemaparan materi, praktik langsung, serta diskusi dan penutup.
 
Mari kita buka acara ini dengan membaca doa bersama. (Membaca doa) Semoga seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan lancar dan membawa manfaat. Aamiin.”
 
 
 
🔹 2. SAMBUTAN KEPALA SEKOLAH — 06.35–06.45
 
“Untuk membuka kegiatan ini secara resmi, marilah kita dengarkan sambutan sekaligus arahan dari Bapak Kepala SMAN 1 Rancaekek. Kepada Bapak [...], kami persilakan dengan hormat.”
 
(Setelah sambutan selesai)
“Terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah atas sambutan dan arahannya yang sangat memotivasi.”
 
 
 
🔹 3. SESI MATERI — 06.45–07.15
 
“Hadirin sekalian, saat ini kita memasuki sesi inti acara, yaitu pemaparan materi tentang Membuat Soal PTS Online Menggunakan Google Forms. Materi ini akan membimbing kita mulai dari dasar penggunaan Google Forms, cara membuat soal, mengatur skor dan waktu, hingga menganalisis hasil penilaian secara otomatis. Untuk itu, kami undang narasumber kita, Bapak/Ibu [pak Hendri .], ke depan. Kepada beliau, kami persilakan.”
 
(Setelah pemaparan materi selesai)
“Terima kasih kepada Bapak/Ibu [.pak Hendri ..] atas pemaparan materi yang sangat jelas dan bermanfaat bagi kita semua.”
 
 
 
🔹 4. SESI PRAKTIK LANGSUNG — 07.15–07.40
 
“Teori akan semakin lengkap jika langsung dipraktikkan. Maka, mari kita sekarang mencoba bersama-sama membuat soal PTS online menggunakan Google Forms. Silakan Bapak/Ibu buka akun Google masing-masing, dan ikuti panduan dari narasumber langkah demi langkah. Jika ada kendala, silakan langsung bertanya kepada narasumber atau rekan pendamping. Selamat mencoba!”
 
 
 
🔹 5. DISKUSI, KESIMPULAN & PENUTUP — 07.40–07.50
 
“Waktu menunjukkan pukul 07.40, saatnya kita masuk ke sesi diskusi singkat. Apakah Bapak/Ibu mengalami kendala, memiliki pertanyaan, atau ingin berbagi pengalaman selama praktik tadi? Silakan — (Beri kesempatan bertanya).
 
Baik, Bapak/Ibu sekalian. Dari kegiatan hari ini, dapat kita simpulkan bahwa Google Forms adalah alat yang sangat praktis dan efektif untuk menyusun soal evaluasi secara online, mempermudah koreksi, dan mempercepat analisis hasil belajar. Semoga ilmu dan keterampilan yang kita peroleh hari ini dapat langsung diterapkan dalam pembelajaran di kelas masing-masing.
 
Demikianlah seluruh rangkaian kegiatan Kelompok Belajar Informatika pagi ini. Kami selaku panitia dan moderator memohon maaf apabila ada kata atau tindakan yang kurang berkenan di hati hadirin. Mari kita tutup acara ini dengan membaca doa. (Membaca doa penutup).
 
Terima kasih atas perhatian dan partisipasi aktif Bapak/Ibu semua. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Selamat melanjutkan aktivitas.
 
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
 
 
 

Friday, April 17, 2026

Hari Kedua Panca Waluya

Hari Kedua Panca Waluya

Menghayati Nilai, Mewujudkan dalam Tindakan
 
Memasuki Hari Kedua Panca Waluya, suasana semakin hangat dan penuh makna. Jika hari pertama adalah waktu untuk mengenal dan memahami filosofi dasar, maka hari ini adalah saatnya untuk menghayati lebih dalam dan mulai menerapkannya dalam perilaku nyata.
 
Langkah kita kini beralih dari "tahu" menjadi "bisa", dan dari "mengerti" menjadi "melakukan".

 
 Sinergi dan Aksi Nyata
 
Di hari kedua, kegiatan lebih berorientasi pada penerapan praktis dan kolaborasi. Kita tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga berdiskusi, berlatih, dan melakukan kegiatan yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.
 
Berikut adalah inti kegiatan dan maknanya:
 
1. Mendalami Makna Setiap Nilai
 
Kita tidak hanya menghafal Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer, tetapi mulai memahami bagaimana nilai-nilai ini bekerja dalam kehidupan nyata:
 
- Cageur, Tidak hanya sehat badan, tapi juga sehat pikiran dan hati, jauh dari kebiasaan buruk.
- Bageur, Menunjukkan kebaikan bukan hanya saat ada orang melihat, tapi menjadi sifat alami dalam berbicara dan bertindak.
- Bener,Berani berkata jujur meski sulit, dan bertindak sesuai aturan dengan kesadaran penuh.
- Pinter, Menggunakan akal sehat untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang bijak.
- Singer, Cepat tanggap dalam membantu orang lain dan bergerak produktif tanpa menunda-nunda.
 
2. Latihan dan Simulasi Perilaku
 
Siswa diajak untuk mempraktikkan situasi nyata
 
- Bagaimana bersikap sopan kepada guru dan teman?
- Bagaimana menjaga kebersihan lingkungan dengan senang hati?
- Bagaimana bekerja sama dalam kelompok tanpa egois?
- Bagaimana menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan hati yang baik?
 
3. Membangun Komitmen Bersama
 
Hari kedua juga menjadi momen untuk saling menguatkan. Kita sadar bahwa membentuk karakter bukan tugas sendiri-sendiri, melainkan tanggung jawab bersama antara siswa, guru, dan lingkungan. Kita berjanji untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mendukung untuk menjadi lebih baik setiap hari.
 
Suasana yang Tercipta
 
- Lebih Akrab,  Hubungan antar siswa dan guru semakin erat, penuh rasa hormat dan kasih sayang (Bageur).
- Lebih Disiplin, Tertib dalam waktu dan aturan terlihat lebih natural, bukan karena takut dihukum, tapi karena kesadaran (Bener).
- Lebih Semangat, Mata berbinar penuh semangat untuk berkarya dan berbuat hal positif (Singer).
 
Pesan Bijak 
 
Air yang mengalir tidak akan menjadi keruh, asalkan terus bergerak dan tidak berhenti.
 
Begitu pula dengan pembentukan karakter. Hari ini kita melangkah lebih mantap. Mungkin masih ada kekurangan, mungkin masih ada yang perlu diperbaiki, tapi yang penting kita terus bergerak maju.
 
Mari jadikan Hari Kedua ini sebagai batu loncatan untuk menanamkan nilai-nilai Panca Waluya lebih dalam ke dalam hati dan pikiran. Semoga kita semua menjadi generasi yang benar-benar Sehat, Baik, Benar, Cerdas, dan Sigap dalam setiap langkah kehidupan.
 

Hari Pertama Panca Waluya

Hari Pertama Panca Waluya 

Menapaki Jalan Kesempurnaan dengan Hati yang Bersih
 
Memasuki gerbang Panca Waluya adalah momen yang sangat istimewa dan penuh makna. Hari pertama ini bukan sekadar perubahan rutinitas, melainkan sebuah titik awal perjalanan spiritual dan karakter untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih seimbang, dan lebih bermartabat.
 
Seperti halnya seseorang yang hendak menempuh perjalanan jauh, hari pertama adalah saat kita mempersiapkan bekal, membetulkan niat, dan melangkahkan kaki dengan keyakinan penuh.

 
Apa yang Terjadi di Hari Pertama?
 
Di hari pertama ini, kita diajak untuk berhenti sejenak, merenung, dan memulai kembali.
 
1. Menyadari Tujuan Hidup
Kita mulai dengan memahami bahwa pendidikan dan kehidupan ini bukan hanya soal mencari ilmu atau pekerjaan, tetapi soal menjadi manusia seutuhnya. Kita belajar bahwa menjadi pintar itu penting, tetapi menjadi baik dan benar jauh lebih utama.
2. Membersihkan Hati dan Pikiran
Hari pertama adalah waktu yang tepat untuk membuang kebiasaan-kebiasaan lama yang kurang baik, menyisihkan rasa malas, dan menggantinya dengan semangat baru. Kita memasuki gerbang ini dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang terbuka.
3. Mengenal Lima Pilar Utama
Kita mulai memperkenalkan dan menghayati makna dari Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer bukan hanya sebagai hafalan, tetapi sebagai cara hidup yang akan kita jalani setiap hari.
 
 
 
Suasana Hari Pertama
 
Suasana di Hari Pertama Panca Waluya terasa berbeda:
 
- Lebih Tenang: Tidak ada keributan, karena kita belajar menghargai orang lain (Bageur).
- Lebih Rapi: Penampilan rapi, lingkungan bersih, dan peraturan ditaati dengan sadar (Bener).
- Lebih Semangat: Mata berbinar penuh harapan, siap belajar hal baru, dan siap berkarya (Singer).
 

 
Perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan satu langkah pertama.
 
Langkah pertama yang Anda ambil hari ini adalah langkah yang paling berharga. Mungkin belum sempurna, mungkin masih ada yang canggung, tetapi yang terpenting adalah niat yang lurus dan keberanian untuk memulai.
 
Mari kita jadikan Hari Pertama Panca Waluya ini sebagai fondasi yang kokoh. Semoga langkah kita senantiasa diberi kemudahan, hati kita diberi ketenangan, dan kita semua bisa tumbuh menjadi generasi yang Sehat, Baik, Benar, Cerdas, dan Berani.
 

Thursday, April 16, 2026

Kokulikuler

Kokulikuler

Menumbuhkembangkan Potensi Diri di Luar Kelas
 
Dalam dunia pendidikan, kegiatan belajar tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas saat jam pelajaran berlangsung. Ada wadah lain yang sama pentingnya untuk membentuk karakter dan kemampuan siswa, yaitu kegiatan Kokulikuler.
 
Istilah ini sering disandingkan dengan kegiatan ekstrakurikuler, namun dalam konteks yang lebih luas, kokulikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran tatap muka, yang bertujuan untuk memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan, serta memperkuat sikap dan nilai-nilai yang telah dipelajari di kelas.
 
Mengapa Kokulikuler Sangat Penting?
 
Pendidikan yang hanya berfokus pada akademis ibarat memotong sayap burung agar tidak bisa terbang tinggi. Manusia memiliki banyak potensi yang tidak bisa hanya diukur dengan angka atau nilai ujian.
 
Melalui kegiatan kokulikuler, siswa dapat
 
1. Menemukan Bakat dan Minat, Setiap anak memiliki keunikan. Ada yang berbakat di bidang seni, olahraga, kepemimpinan, atau sains. Kokulikuler adalah tempat yang tepat untuk menggali dan mengasahnya.

2. Melatih Keterampilan Sosial, Di sini siswa belajar berinteraksi, bekerja sama dalam tim, berdiskusi, dan memimpin. Mereka belajar arti persahabatan dan tanggung jawab bersama.

3. Membangun Karakter yang Kuat, Kegiatan seperti Pramuka, Paskibraka, atau organisasi siswa melatih kedisiplinan, keberanian, dan ketangguhan mental yang tidak selalu didapatkan dari buku teks.
 
Keterkaitan dengan Nilai Panca Waluya
 
Kegiatan kokulikuler adalah lahan subur untuk menumbuhkan nilai-nilai Panca Waluya:
 
- Cageur, Melalui kegiatan olahraga dan kepramukaan, fisik menjadi sehat dan mental menjadi tangguh.
- Bageur, Tumbuh rasa empati, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
- Bener,Terlatih disiplin waktu, menaati aturan main, dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.
- Pinter, Menambah wawasan baru, kemampuan komunikasi, dan cara berpikir strategi.
- Singer , ke luar.Melatih keberanian tampil, kreativitas, dan inisiatif untuk bertindak nyata.
 
Menjadi Generasi yang Utuh dan Berdaya
 
Seorang siswa yang aktif dalam kokulikuler biasanya memiliki kepribadian yang lebih seimbang. Ia tidak hanya pandai secara akademis, tetapi juga luwes dalam pergaulan, percaya diri, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
 
Ia belajar bahwa hidup ini bukan hanya tentang "tahu", tetapi juga tentang "bisa" dan "berani".
 


Penutup
 
Oleh karena itu, kegiatan kokulikuler bukanlah kegiatan tambahan yang mengganggu atau sekadar pelengkap. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan yang utuh.
 
Mari kita dukung dan berikan ruang yang seluas-luasnya bagi siswa untuk berkembang. Karena sekolah yang baik bukan hanya yang mencetak nilai tinggi, tetapi juga yang mampu melahirkan generasi yang berbakat, berkarakter, dan siap berkarya.

Hasil briefing hari Rabu 21102026

  Hasil Rapat   Hari/Tanggal: Rabu, 21 Oktober 2026  Pukul 14.00 Tempat: SMAN 1 Rancaekek    I. Pelaksanaan TKA (Tes...